Bersahabat dengan Asma dan Alergi pada Anak
sejak si sulung di’vonis’ oleh dsa (dokter spesialis anak) memiliki penyakit asma turunan dan alergi, bunda menjadi ekstra hati-hati menjaganya. Si sulung tidak hanya alergi debu dan suhu ekstrem, tapi juga sangat sensitif terhadap udara yang tercemar mulai dari asap rokok, obat nyamuk semprot, minyak wangi, sampai bau masakan yang menyengat bahkan (maaf) bau mulut dan kentutnya sendiri! Si sulung selalu berlagak seperti mau muntah jika menemukan bau-bauan yang aneh menurutnya.
Awalnya sebagai ibu muda yang belum berpengalaman, cukup merepotkan jika si sulung harus bolak-balik ke dsa karena ulah alerginya yang sering kambuh. Karena alerginya yang dahsyat itupula sering membuatnya sesak napas alias asma. Bermula dari rhinitis alergi (pilek) ditambah batuk, lama-lama batuk berdahak, dan karena anak kecil belum bisa mengeluarkan dahak sehingga menjadi sesak napas.
Ketika si sulung masih bayi, dia tidak berontak jika di-inhalasi, tapi semakin besar hal itu membuatnya kebosanan dan mengamuk. Seringnya selama proses inhalasi si sulung menangis tiada henti dari awal sampai selesai dan berhenti tertidur setelah kecapaian. Namun kadang inhalasi tidak cukup membantu meredakan sesak napasnya dalam waktu yang lama sehingga harus diulang beberapa kali dalam sehari. Tentunya hal yang ‘tidak menyenangkan’ ini menjadi trauma tersendiri baginya.
Atas saran dari keluarga, bunda membawanya ke klinik asma dan alergi, dari sini bunda mendapat banyak pelajaran bagaimana mengatasi dan berdamai dengan asma dan alergi. Hal yang paling penting adalah menghindari faktor pencetus alergi, entah udara kotor, perubahan suhu yang ekstrim, makanan yang merangsang, dsb. Untuk anak yang memiliki resiko asma maka disarankan agar selalu menjaga agar tidak terlalu kelelahan. Perpaduan yang sempurna antara kelalahan fisik dan pencetus alergi ditambah dengan tertular virus/bakteri dari lingkungan sekitar mengakibatkan serangan asma sangat cepat terjadi.
Jika terjadi serangan asma, hal yang pertama yang dilakukan adalah melakukan inhalasi dengan obat yang telah diresepkan oleh dokter, biasanya berupa steroid dan bronkodilator. Selain itu biasanya dokter akan memberikan resep obat minum berupa paduan dari antibiotik, anti radang, anti alergi, obat batuk berupa bronkodilator, obat pilek, dan pengencer dahak. Jika demam maka ditambah paracetamol. Sangat tidak disarankan untuk memberikan penurun panas berupa ibuprofen ketika terjadi serangan asma. Menurut dokter, penyakit asma dan alergi sangat khas dan dapat berkembang dengan cepat sehingga penggunaan antibiotik dipastikan hampir selalu disarankan.
Selain itu tidur dengan menggunakan bantal yang tinggi cukup membantu meringankan sesak napas. Biasanya anak yang terserang asma memiliki batuk yang sangat khas berbunyi seperti menggonggong dan biasanya akan terjadi menjelang pagi dan cukup hebat untuk membangunkannya dari tidur. Adakalanya karena tenggorokan yang tidak nyaman, anak akan muntah dan berupaya mengeluarkan dahaknya. Jika anak muntah maka segeralah memberikan minuman hangat untuk menggantikan cairan tubuhnya agar tidak dehidrasi, minuman hangat juga dapat membantu mengencerkan lendirnya.
Serangan asma ringan dapat teratasi dalam beberapa jam. Serangan asma hebat dapat berulang selama beberapa hari bahkan sampai dengan seminggu. Hal ini pernah terjadi pada si sulung, bunda kebingungan setengah mati karena setiap malam selalu terjadi serangan asma ditambah seluruh badannya dipenuhi oleh ruam merah, walaupun sudah minum obat dan inhalasi sampai 3x sehari, dan berkunjung ke 3 dokter spesialis yang berbeda. Selidik punya selidik ini diakibatkan karena alergi yang menyerang tubuhnya belum teratasi dengan baik sehingga serangan terjadi berulang sampai seminggu.
Tidak ada kata lelah bagi bunda untuk menjaga buah hatinya agar selalu sehat dan ceria. Dukungan dari keluarga besar, teman bermain dan asisten rumah tangga dalam menciptakan kondisi lingkungan rumah yang nyaman dan bebas dari pencetus alergi untuk menjaga kondisi kesehatan si kecil sangat dibutuhkan.
Filed under Anak, Keluarga, Tips, asma dan alergi, curhat | Comment (0)Tips Mudik Nyaman Bareng Anak
Alhamdullilah sebentar lagi kita akan merayakan hari raya idul fitri, seperti tahun lalu tahun ini pun kami akan silaturahmi ke rumah orang tua di Bandung. Saya ingin berbagi tips untuk bunda-bunda yang akan membawa anaknya melakukan perjalanan jauh karena dari pengalaman saya tidak mudah untuk anak merasa nyaman apabila melakukan perjalanan jauh.
berikut tips dari saya :
1. Setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda tergantung usia dan faktor lainnya. Persiapkan tas khusus untuk setiap anak dan pastikan tas tersebut ada di samping anak kita. Tas tersebut dapat kita isi dengan buku bacaan, buku tulis, crayon, mainan favoritnya atau alat musik.
2. Siapkan makanan ringan dan minuman yang cukup untuk anak kita agar perjalanan tidak terhenti karena anak kita menginginkan makanan atau minuman tertentu di jalan.
3. Siapkan selimut, bantal dan guling favorit anak untuk mempermudah anak tidur di perjalanan.
4. Ajak anak kita untuk melakukan aktifitas agar tidak bosan dalam perjalanan seperti melakukan permainan tebak mobil atau nama-nama benda yang ada dijalan atau menyanyi jadi siapkan juga cd music favorit anak.
5. Jangan lupa ajak anak kita buang air terlebih dahulu sebelum perjalanan dan ingatkan anak untuk memberitahu kita kalo dia butuh buang air.
6. Selalu sedia tissue basah dan tissue kering serta beberapa kantung plastik bekas. tissue basah bisa menjadi penyelamat bila tangan anak kotor terkena makanan atau jok mobil terkena tumpahan makanan/minuman.
Filed under Keluarga, Tips | Comments (2)Ini pilihanku !
Saya mulai blog ini dengan sebuah tulisan yang membuatku yakin akan pilihanku …silahkan membaca :
Seorang sahabat mengungkapkan rencananya untuk mengundurkan diri dari
perusahaan tempat kerjanya. Ia merasa tidak takut meninggalkan karirnya
yang sudah belasan tahun dirintisnya dari bawah. “sayang juga
sebenarnya, dan ini merupakan pilihan yang berat, terlebih ketika saya
merasa sudah berada di puncak karir, ” ujarnya.
Lalu ke mana setelah resign? “yang ada di pikiran saya saat ini hanya
satu, menjadi ibu rumah tangga. Sudah terlalu lama saya meninggalkan
anak-anak di rumah tanpa bimbingan maksimal dari ibunya. Saya sering
terlalu lelah untuk memberi pelayanan terbaik untuk suami. Bahkan
sebagai bagian dari masyarakat, saya sangat sibuk sehingga hanya sedikit
waktu untuk bersosialisasi dengan tetangga dan warga sekitar”
Tapi, ibu nampaknya masih ragu? “bukan ragu. Saya hanya perlu menata
mental sebelum benar-benar mengambil langkah ini”.
“Rasanya masih malu jika suatu saat bertemu dengan teman-teman sejawat
atau rekan bisnis. Saya belum menemukan jawaban yang pas saat mereka
bertanya, “sekarang Anda cuma jadi ibu rumah tangga?”
Saya tersenyum mendengarnya, mencoba memahami kesesakan benaknya saat
itu. Teringat saya dengan seorang sahabat lama yang saat di sebuah forum
wanita karir di Jerman lantang menjawab, “profesi saya ibu rumah tangga,
jika di antara para hadirin ada yang mengatakan bahwa ibu rumah tangga
bukan profesi, saya bisa menjelaskan secara panjang lebar betapa
mulianya profesi saya ini dan tidak cukup waktu satu hari untuk
menjelaskannya”.
Luar biasa. Sekali lagi luar biasa. Saya harus hadiahkan acungan jempol
melebihi dari yang saya miliki untuk sahabat yang satu ini. Saya
tuturkan kisah ini kepada sahabat yang sedang menata hati meyakinkan
diri untuk benar-benar menjadi ibu rumah tangga, bahwa ia takkan pernah
menyesali pilihannya itu. Kelak ia akan menyadari bahwa langkahnya itu
adalah keputusan terbaik yang pernah ia tetapkan seumur hidupnya.
Naluri setiap wanita adalah menjadi ibu. Adakah wanita yang benar-benar
tak pernah ingin menjadi ibu? Percayalah, pada fitrahnya wanita akan
lebih senang memilih berada di rumah mendampingi perkembangan
putra-putrinya dari waktu ke waktu. Menjadi yang pertama melihat si
kecil berdiri dan menjejakkan langkah pertamanya. Ia tak ingin anaknya
lebih dulu bisa berucap “mbak” atau “bibi” ketimbang ucapan “mama”. Tak
satupun ibu yang tak terenyuh ketika putra yang dilahirkan dari rahimnya
lebih memilih pelukan baby sitter saat menangis mencari kehangatan.
Ibulah yang paling mengerti memberikan yang terbaik untuk anaknya,
karena ia yang tak henti mendekapnya selama dalam masa kandungan.
Sebagian darahnya mengalir di tubuh anaknya. Ia pula yang merasakan
perih yang tak tertahankan ketika melahirkan anaknya, saat itulah
kembang cinta tengah merekah dan binar mata ibu menyiratkan kata, “ini
ibu nak, malaikat yang kan selalu menyertaimu”. Cintapun terus mengalir
bersama air kehidupan dari dada sang ibu, serta belai lembut dan kecupan
kasih sayang yang sedetik pun takkan pernah terlewatkan.
Ibu akan menjadi apapun yang dikehendaki. Pemberi asupan gizi, pencuci
pakaian, tukang masak terhebat, perawat di kala sakit, penjaga malam
yang siap siaga, atau pendongeng yang lucu. Kadang berperan sebagai
guru, kadang kala jadi pembantu. Jadi apapun ibu, semuanya dilakukan
tanpa bayaran sepeserpun alias gratis.
Sumber: Menjadi Ibu Rumah Tangga, Berani? oleh Bayu Gawtama…
kutipan dari milis resonansi
Filed under curhat | Comment (0)Halo dunia!
Selamat Datang Blogdetik.com. Ini merupakan postingan pertama Anda. Silahkan Edit atau hapus postingan ini, dan mulai ngeblog!
Filed under Tak Berkategori | Comment (1)